Ungkap Motif Penyerangan Az-Zikra

Polri Harus Bekerja Maksimal Mengungkap Motif Penyerangan Az-Zikra

Yayasan Satu Keadilan sebagai sebuah lembaga sosial dan kemanusiaan menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas aksi penyerangan terhadap Kompleks Az-Zikra disertrai kekerasan terhadap petugas penjaga Masjid yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang.

Berdasarkan keterangan saksi/korban, tindakan penyerangan disertai kekerasan ini dilakukan dengan didahului oleh sekelompok orang yang menanyakan spanduk berisi penolakan terhadap syiah yang dipasang oleh warga melalui ketua RW sebagai dakwah memerangi syiah yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai ajaran sesat. Kejadian ini dilakukan pada Rabu (11/2/2015), saat sekelompok orang tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaanya seputar siapa yang memasang spanduk penolakan terhadap Syiah hingga berujung pada tindak kekerasan; penganiayaan terhadap pengurus Masjid Az-Zikra.

Terhadap peristiwa tersebut, Polres Kabupaten Bogor telah mengambil langkah cepat dengan melakukan penangkapan terhadap sejumlah pelaku dan langsung dilakukan pemeriksaan yang intensif terhadap para pelaku dengan mendapatkan pengamanan yang ketat dari Satuan Brigade Mobil (Brimob).

Dengan demikian kami mendorong agar Polri bersikap objektif dalam melakukan penyelidikan hingga diketahui motif dibalik penyerangan tersebut. Hal ini penting karena para pelaku “mengatasnamakan” kelompok aliran tertentu yang berpotensi menimbulkan kembali serangan balasan dengan tindak kekerasan terhadap kelompok tertentu. Jika melihat dari berbagai praktik kekerasan yang didasari oleh perbedaan keyakinan yang kerap terjadi justru dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan mayoritas agama tertentu (kelompok intoleran). Dengan demikian penyerangan atas nama kelompok minoritas menjadi sangat “aneh”.
Berdasarkan hal tersebut kami mendesak :

  1. Polri harus bertindak cepat dalam mengungkap motif dibalik penyerangan jangan sampai terjadi serangan balasan dari kelompok intoleran terhadap kelompok yang diatasnamakan sebagai pelaku penyerangan ;
  2. Pemerintah (Pesiden, Gubernur dan Bupati Bogor) harus segera menyusun langkah-langkah yang efektif dan menyeluruh dalam menyelesaikan persoalan intoleransi atau perbedaan keyakinan yang terus menerus terjadi hingga berujung pada tindak kekerasan. Sebagai rujukan nilai-nilai keberagaman sudah tertuang dalam UUD tahun 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI serta seperangkat aturan tentang HAM. Nilai dan aturan tersebut harus diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini membangun kesadaran bersama akan keberagaman menjadi prioritas dengan difasilitasi oleh Pemerintah.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan.

Bogor, 13 Februari 2015

Yayasan Satu Keadilan

Sugeng Teguh Santoso, S.H.
Ketua

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *