Sakramen Pengakuan Dosa, Sebuah Keberuntungan

Saya kira tidak mudah mengungkapkan dosa atau permasalahan hidup, apalagi bagi orang-orang yang tidak mudah mempercayai orang lain untuk dijadikan sebagai tempat mencurahkan isi hati

Sudah 3 hari saya mengikuti pelatihan Penggerak Perdamaian di Bogor. Di hari kedua, yaitu tanggal 13 Oktober 2019, kami melakukan kunjungan ke dua rumah ibadah; gereja Katolik St. Ignatius Loyola dan Masjid milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Ini bukan kali pertama saya berkunjung di kedua rumah ibadah tersebut. Saya biasa mengunjungi gereja, bahkan pernah mengikuti perayaan Natal. Begitu juga dengan masjid. Saya muslim, dan memasuki masjid adalah hal yang biasa bagi saya; yang membedakan adalah masjid yang saya kunjungi kemarin merupakan milik Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Berkunjung ke rumah ibadah milik JAI juga bukan merupakan kunjungan pertama saya. Saya pernah berkunjung ke rumah ibadah JAI di Tasik, Kuningan, dan juga Cirebon; kota di mana saya dilahirkan dan bertempat tinggal.

Tetapi, selalu ada yang berbeda pada setiap kunjungan. Ada satu hal yang paling menarik hati saya kemarin, yaitu ketika kunjungan di Gereja Katolik St. Ignatius Loyola di Semplak Bogor. Salah satu teman saya menanyakan mengenai pengakuan dosa, yang kemudian dijelaskan oleh Romo Anton. Betapa terkejutnya saya karena ternyata pemahaman saya mengenai pengakuan dosa selama ini salah. Saya berpikir bahwa pengakuan dosa dilakukan umat Katolik dengan merenung di gereja seperti itikaf, lalu mengungkapkannya dalam hati kepada Tuhan. Ternyata, pengakuan dosa dilakukan umat Katolik dengan bercerita [menyampaikan pengakuannya] kepada Pastor.

Proses pengakuan dosa yang seperti itu membuat saya bertepuk tangan dalam hati; betapa beruntungnya umat katolik dengan adanya sakramen pengakuan dosa.

Kekaguman ini muncul mungkin karena saya berkuliah di Jurusan Bimbingan dan Konseling. Saya membayangkan proses pengakuan dosa dengan proses konseling yang dilakukan oleh seorang konselor dan kliennya. Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa betapa beruntungnya umat Katolik dengan sakramen pengakuan dosanya. Saya kira tidak mudah mengungkapkan dosa atau permasalahan hidup, apalagi bagi orang-orang yang tidak mudah mempercayai orang lain untuk dijadikan sebagai tempat mencurahkan isi hati. Sakramen pengakuan dosa, saya kira bisa menjadi salah satu ruang bagi setiap umat Katolik untuk bisa mencurahkan permasalahan hidupnya, tanpa mengkhawatirkan permasalahannya akan terbongkar. Karena seorang Pastor tidak boleh menceritakan apa yang sudah diceritakan umatnya kepada siapapun, bahkan untuk keperluan hukum sekalipun.

Terakhir (baca: sekali lagi) betapa beruntungnya umat Katolik dengan sakramen pengakuan dosanya.

Tentang Penulis:
Zariqoh Ainnayah Silviah biasa dipanggil dengan Iqo, seorang mahasiswa di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Selain aktif di Sofi Institute, Iqo juga menyibukkan diri di WCC Mawar Balqis dan Forum Diskusi Djalan Juang. Iqo mengikuti pelatihan Penggerak Perdamaian karena ia merasa masifnya penyebaran konten-konten negatif di media sosial dan di lingkungan sosial masyarakat yang harus sudah mulai diseimbangkan dengan narasi-narsi perdamaian dan toleransi. Sekarang, Iqo menambah aktivitas positifnya lewat komunitas Gerakan Penggerak Perdamaian.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *